Tugas Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
KLASIFIKASI DAN JENIS-JENIS MANFAAT SUMBERDAYA HUTAN
Dosen
Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Fanni Adwita Tambunan
Fanni Adwita Tambunan
171201009
Kelompok
4
Hut 4D
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sumberdaya alam
berupa hutan merupakan salah satu kekayaan alam yang memiliki nilai sangat
strategis. Meskipun sumberdaya alam ini termasuk kategori potensi alam yang
dapat diperbaharui (renewable), sebagai amanat Tuhan Yang Maha Esa, pengelolaan
kekayaan alam ini harus benar-benar dilakukan secara arif, bijaksana dan
profesional. Menurut Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, bahwa
hutan merupakan suatu ekosistem, artinya konsep pengelolaannya harus menyeluruh
yang memadukan unsur biotik dan abiotik beserta unsur lingkungan lainnya yang
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan secara lestari
(sustainable).
Hutan memiliki
tiga fungsi; yaitu fungsi produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok memproduksi hasil hutan; fungsi lindung adalah kawasan hutan yang
mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk
mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi
(penerobosan) air laut dan memelihara kesuburan tanah; fungsi konservasi adalah
kawasan hutan dengan ciri tertentu yang memiliki fungsi pokok pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Secara makro bahwa
pengelolaan hutan yang berkelanjutan harus dilakukan dengan pendekatan tiga
prinsip kelestarian yaitu kelestarian ekologi, kelestarian ekonomi dan
kelestarian sosial. Ketiga prinsip kelestarian merupakan satu kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Masyarakat sudah
lama mengenal dan mengambil manfaat dari adanya sumber daya hutan, bahkan
sampai sekarang ini masih banyak masyarakat yang sumber kehidupannya tergantung
kepada sumber daya hutan seperti masyarakat terasing, peladang berpindah, dan
bahkan masyarakat pedesaan disekitar hutan, Manfaat sumber daya hutan lebih
luas lagi, tidak hanya dinikmati oleh penduduk setempat di dalam dan disekitar
hutan tetapijuga oleh para pengusaha serta masyarakat yang lebih luas dan
bahkan oleh masyarakat dunia. Bentuk manfaatnya juga lebih beranekaragam, mulai
dari manfaat ekonomi seperti penyediaan lapangan kerja, pendapatan masyarakat,
dan penghasilan devisa, sampai kepada manfaat lingkungan seperti pelestarian
keanekaragaman hayati, pemeliharaan iklim dunia dan pencegahan pemanasan bumi.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa saja jenis-jenis
Sumberdaya alam ?
2.
Bagaimana Pengelompokan Sumber
Daya Alam Berdasarkan Ciri Tertentu ?
3.
Bagaimana Klasifikasi hutan ?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui jenis-jenis Sumberdaya Alam.
2.
Untuk mengetahui Sumber Daya Alam Berdasarkan Ciri Tertentu.
3.
Untuk mengetahui Klasifikasi Hutan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis-Jenis Sumber Daya Alam
Dipterocarpaceae
merupakan suku penghasil kayu yang sangat unggul dari kawasan tropis Asia.
Dipterocarpaceae meliputi Kayu Daun Lebar Berat, yang awet : balau/bangkirai
(Shorea) dan giam (Hopea). Kayu Daun Lebar Sedang, yang tidak awet : keruing
(Dipterocarpus), kapur (Dryobalanops) dan merawan (Hopea). Kayu Daun Lebar
Ringan, yang tidak awet : meranti merah dan meranti kuning, meranti putih
(Shorea), seraya putih atau pendan (Parashorea) dan mersawa (Anisoptera). Kayu
resak (Vatica dan Cotylelobium) berukuran kecil shg tidak ditebang tetapi
penghasil kayu keras dan kuat, untuk membuat rumah, konstruksi dan jembatan.
Kulit batang untuk fermentasi bir dan brem.
sebagian besar jenis-jenis Dipterocarpaceae
terdapat pada daerah beriklim basah dan kelembaban yang tinggi dibawah ketinggian
1.000 m dpl, dengan rata-rata curah hujan tahunan mencapai 2.000 mm dan musim
kemarau yang pendek. Pada ketinggian 1.350 meter dapat ditemukan Shorea
beccariana, S. flaviflora, S. rubra, dan Vatica
hepteroptera. Kemudian yang tumbuh pada ketinggian 1.500 meter dpl,
antara lain : Vatica dulitensis, V. oblongifolia, Shorea monticola, S.
ovata dan yang tumbuh sampai ketinggian 1.800 meter dpl adalah Shorea
venulosa, Hopea cernua dan Vatica grenulata.
Sedangkan jenis-jenis Dipterocarpaceae yang hidup pada iklim
musim dan kering 3-5 bulan per tahun, antara Shorea robusta, S.
siamensis, Dipterocarpus littoralis, Hopea celebica, Vatica
cinerea dan Parashorea stellata
Famili
Dipterocarpaceae menyebar mulai dari Afrika, Seychelles, Ceylon hingga Semenanjung
India, selanjutnya di India Timur, Bangladesh, Burma, Tahiland, Indocina,
Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Philipina. secara alami
jenis-jenis Dipterocarpaceae merupakan hutan alam campuran yang
tersebar luas pada berbagai topografi pada ketinggian dibawah 80 m dpl dan
jarang ditemukan hutan-hutan Dipterocarpaceae murni atau
berkelompok pada ketinggian 800 m dpl.
2.2 Pengelompokan Sumber Daya Alam Berdasarkan Ciri
Tertentu
A.
Pertumbuhan Nilai Produksi
Pertumbuhan
nilai produksi Salah
satu modal dalam pembangunan kehutanan adalah kawasan hutan negara, Luas
kawasan hutan negara tersebut dalam PJP-1 adalah sekitar 140 juta ha, yang
berdasarkan fungsi utamanya terdiri dari hutan produksi (64 juta hektar), hutan
produksi yang dapat dikonversi (27 juta hektar), hutan lindung (3O juta
hektar), dan kawasan konservasi alam (19 juta hektar). Hampir seluruh aset
hutan lndonesia berupa hutan alam yang sebagian besar terdapat di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan lrian Jaya.
Fungsi utama
hutan produksi adalah menyediakan bahan baku secara lestari untuk berbagai
sektor pembangunan, terutama sektor industri. Hutan produksi yang dapat
dikonversikan mempunyai fungsi utama menyediakan bahan baku industri dan lahan
bagi berbagai kegiatan lain seperti pertanian, transmigrasi, dan pembangunan
prasarana pembangunan. Sedangkan hutan lindung dan hutan konservasi alam
mempunyai-fungsi utama menyediakan jasa lingkungan bagi pembangunan terutama
jasa perlind ungan tata-air dan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati dan
penyangga kehidupan, serta jasa ilmu pengetahuan dan wisata. Meskipun belum
sempurna, selama PJP-1 kita telah berhasil mempertahankan kawasan hutan
tersebut, sehingga lndonesia masih merupakan salah satu negara yang memiliki
luas hutan alam tropika yang terbesar di dunia.
Sejak tahun 1969 sampai sekarang
ini peranan sumber daya hutan alam dalam pembangunan industri dan perdagangan
internasionalamat besar. Sumber daya hutan telah memungkinkan tumbuh
berkembangnya kemampuan industri perkayuanasional dan pada'gilirannya mendorong
ekspor hasil hutan dalam jumlah dan nilai yang cukup besar. Selama PJP-1, nilai
ekspor hasil hutan selalu berada diurutan paling atas dari semua nilai ekspor
non-migas. Pada tahun 1993, nilai ekspor hasil hutan dan hasil industrinya
mencapai sekitar 26,9 Vo darisemua nilai ekspor non-migas lndonesia, dan
sedikit lebih tinggi dari nilai ekspor produk textiel lndonesia yang menjadi
primadona ekspor industri kita. Ekspor hasil hutan ini amat penting karena
komponen impornya paling rendah dibandingkan dengan komponen impor dari
produk-produk lain yang diekspor. sehingga amat besar peranannya dalam
penghasilan devisa dan perbaikan neraca pembayaran luar negeri bagi negara.
B. Tantangan
Pada
peranan kehutanan dalam pembangunan nasional, namun akan banyak pula dihadapi tantangan. Tantangan
yang paling penting diantaranya adalah meningkatkan:(a) mutu kawasan hutan dan
mutu hutan alam, (b) kemampuan pengelolaan hutan dan industrinya yang lebih
efisien, (c) pengembangan hutan tanaman baru, seperti HTI dan hutan rakyat, (d)
ekspor hasil hutan berupa barang jadi yang lestari, dan (e) peranserta
masyarakat yang lebih luas dalam usaha kehutanan dan kepedulian masyarakat
dalam pelestarian fungsi hutan.
Untuk mendukung
pertumbuhan industri kehutanan dimasa depan diperlukan sediaan bahan baku yang
lebih banyak. Hutan alam yang masih ada dan hutan tanaman yang baru harus terus
dikembangkan. Ini berarti pemeliharaan dan peningkatan produktivitas kawasan
hutan produksiyang berupa hutan alam seluas 46 juta ha terus ditingkatkan, dan
hutan produksi yang tidak produktif seluas i8 juta hektar di rehabilitasi dan 6
juta hektar diantaranya yang rusak berat ditingkatkan menjadi hutan tanaman
industri yang baru. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan waktu sedikitnya 15 tahun,
tetapi akan dapat menghasilkan pendapatan nasional sedikitnya US$ 12 milyar
setahunnya. Dengan jumlah produksi yang meningkat tersebut, maka industri
perkayuan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan nilai tambah yang lebih
besar pula bagi negara untuk membantu meningkatkan sumbangan sektor industri
menjadi 32,5 o/o dari PDB pada akhir PJP-2.
C. Kendala
dan Peluang
Tentu saja
banyak hambatan yang akan ditemui dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan
peranan sumber daya hutan dan industrinya. Hambatan penting dalam bidang
kehutanan adalah terbatasnya sumberdaya manusia yang profesionaldan berdedikasi
tnggi, belum memadainya kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan masih
belum dikembangkannya kelembagaan kehutanan yang dapat menjamin tercapainya
berbagai sasaran itu. Hambatan ini dihadapi bukan hanya oleh pemerintah, tetapi
juga oleh dunia usaha dan masyarakat kehutanan lainnya baik dalam upaya
peningkatan pengelolaan hutan maupun dalam pengolahan hasilnya, Hambatan harus
dapat diatasi secara bertahap.
Meskipun banyak
hambatan, tetapi banyak juga peluang yang dapat memberi dorongan besar bagi
pengembangan peranan sumber daya kehutanan dan industrinya dalam pembangunan
nasional. Peluang yang paling penting diantaranya adalah : (1) potensi hutan
yang masih cukup besar dan keanekaragamannya serta letak geografis Indonesia
yang strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dan
pangsa pasar hasil hutan yang besar di kawasan Asia-Pasifik dan bahkan di
dunia, (2) pasar yang semakin berkembang bagi berbagai produk hutan tropis, (3)
pengalaman dalam mengelola hutan, mengembangkan sistim pengusahaan dan industri
kehutanan, serta perdagangan internasional, (4) kepedulian masyarakat yang
besar, baik di Indonesia maupun didunia, terhadap kelestarian fungsi hutan
tropis, (5) berkembangnya iklim usaha yang makin kompetitif yang mendorong
tumbuhnya motivasi para pengusaha dan pemanfaat hutan lainnya untuk mengelola
hutan secara efisien dan lestari.
D. Harapan
Dalam Pengembangan Sumberdaya Hutan
Peranan
hutan rakyat dengan industrinya dalam pembangunan nasional diharapkan meningkat
pula. Pertumbuhan nilai ini diharapkan terjadi melalui peningkatan mutu dan
nilai produksi hutan rakyat yang disebabkan oleh peningkatan keterampilan,
penguasaan teknologi, dan peranserta masyarakat yang lebih luas dalam pembangunan
kehutanan. Apabila kita berhasil memelihara dan memulihkan mutu sumberdaya
hutan di dalam kawasan hutan tetap seluas 113 juta hektar dan meningkatkan
peranan tanah milik rakyat yang marginal menjadi hutan rakyat yang produktif,
maka meningkat pulalah peranan sumber daya hutan untuk mendukung industri dan
bersama-sama mendukung pertumbuhan dan pemerataan dalam pembangunan ekonomi
nasional.
Keberhasilan
dalam peningkatan mutu sumber daya hutan, secara ekonomis dan ekologis, akan
mampu membangun industri yang menghasilkan barang ekspor yang memenuhi
persyaratan lingkungan yang diacu oleh pasaran dunia, dan oleh karena itu akan
mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan kedudukan Indonesia di pasaran
kayu tropika dunia. Harus pula diingat bahwa dalam upaya peningkatan peranan
kehutanan tersebut maka peranserta usaha kecil dan menengah masih perlu
ditingkatkan pula sebagai sarana yang baik untuk meningkatkan pemerataan
pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
2.3 Klasifikasi atau Manfaat Keruing
Minyak keruing kurang
dikenal dibanding jenis-jenis HHBK lainnya yang lebih komersial
seperti tengkawang, damar, rotan dan gaharu.
Pemanfaatan minyak keruing dalam catatan yang ada saat ini lebih banyak dijumpai di kawasan India dan
Indocina dibanding kawasan Indonesia-Malaya. Padahal pada tahun 1984, Sumatera
mampu mengekspor sekitar
20 ton dengan kisaran harga saat itu sebesar US$ 30/L. Negara sasaran
ekspor minyak keruing adalah negara-negara di Eropa.
Sehubungan dengan hal tersebut maka untuk
mempopulerkan kembali minyak keruing secara ekonomi, diperlukan penelitian dan eksplorasi
spesies pohon penghasil minyak keruing. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi
potensi dan sebaran spesies pohon penghasil minyak keruing potensial. Hasil penelitian ini
memberikan manfaat tersedianya data tentang sumber pohon penghasil minyak keruing secara terus
menerus, sehingga secara tidak langsung akanmengalihkan sasaran pembalakan
kepada pemanfaatan HHBK yang berarti turut melestarikan keberadaan spesies
tersebut.
Keruing gunung merupakan
tumbuhan bernilai ekonomi, pemanfaatannya
cukup luas yang meliputi kepeluan furniture,
konstruksi bangunan hingga bantalan rel kereta api. Meskipun secara umum telah diketahui
fungsi ini, namun upaya bioprospeksi
dapat terus dilakukan, terutama bila dikaitkan dengan upaya konservasi
jenisnya pada suatu kawasan konservasi tertentu,
misalnya TNGR di Provinsi NTB.
yang dimanfaatkan dari keruing gunung adalah kayu yang memiliki
kualitas yang cukup baik yaitu berada pada
kelas awet III dan kelas kuat II dengan
berat jenis 0,70 (LIPI 1983). Kayu keruing gunung cocok untuk
konstruksi bangunan, lantai, karoseri (kerangka, lantai, dan
dinding), bangunan pelabuhan dan bantalan kereta api. Kayu ini banyak juga
digunakan untuk perkapalan (dek dan kulit tongkang) dan bagian perumahan (balok,
tiang, papan, dan kerangka atap). Jika digunakan di tempat yang terdapat
serangan jamur, serangga atau binatang laut perusak kayu, maka kayu keruing gunung
harus diawetkan dengan bahan pengawet yang sesuai. Kayu yang telah diawetkan
baik digunakan sebagai bantalan kereta api dan tiang listrik.
Keruing gunung juga
menghasilkan semacam oleoresin yang dikenal sebagai
minyak keruing atau minyak lagan, akan tetapi hanya
beberapa jenis saja yang mampu berproduksi dalam jumlah yang banyak untuk diperdagangkan. Secara
lokal minyak ini digunakan untuk memakal (mendempul)
perahu, sebagai pernis perabotan
rumah atau dinding, serta obat luka atau sakit kulit tertentu. Minyak keruing
banyak diproduksi oleh Thailand, yang pada tahun 1984
menghasilkan hingga 1,7 juta liter resin yang lebih kental dari keruing dikenal dengan nama umum
damar. Untuk memperoleh damar, batang keruing dilubangi hingga mencapai
kayu terasnya dan mengeluarkan cairan resin yang akan
berkumpul di sudut-sudut lubang
itu, yang dalam beberapa hari akan mengeras menjadi damar. Setelah
gumpalan damar diambil, secara berkala lubang-lubang
itu dibakar untuk merangsang kembali keluarnya resin. Beberapa jenis yang menghasilkan damar bermutu
baik, di
antaranya D. cornutus (tampudau), D.
crinitus (tampurau), D. grandiflorus (keruing
gajah), dan D. hasseltii (palahlar).
Secara tradisional kulit
batang keruing gunung dapat memulihkan infeksi pada
kulit. Etnis Dayak dari beberapa kabupaten di
Kalimantan Barat yang
telah lama memanfaatkan keruing sebagai obat luka, antara lain dari Kabupaten
Pontianak, Sanggau, dan Kapuas Hulu. Pemanfaatan
keruing gunung sebagai obat luka juga dilakukan oleh etnis Dayak di Sabah Malaysia.
Pemanfaatan kulit batang sebagai obat luka masih dapat
dijumpai terutama oleh warga yang tinggal di daerah pedalaman. Pengetahuan tentang pengobatan
tradisional dari kulit
batang keruing gunung ini merupakan warisan nenek moyang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Keruing dalam
nama botani dikenal dengan Dipterocarpus adalah salah satu genus penting
Dipterocarpaceae.
2.
Keruing gunung
juga menghasilkan semacam oleoresin yang dikenal sebagai
minyak keruing atau minyak lagan, akan tetapi hanya
beberapa jenis saja yang mampu berproduksi dalam jumlah yang banyak untuk diperdagangkan
3.
buah
pada kelompok dipterokarp dibagi menjadi 3 bagian yaitu sayap buah (terdiri dari
sayap panjang dan sayap pendek), tabung buah atau geluk.
4.
Potensi ekonomi
keruing tidak hanya terbatas sebagai penghasil kayu, tetapi juga sebagai penghasil minyak
keruing.
5.
70 spesies yang
menyebar terutama di Asia Tenggara mulai dari India, Srilanka di barat, Burma,
Indocina, Cina bagian selatan, Thailand, hingga ke kawasan Malesia bagian
barat. Di wilayah Malesia, keruing tersebar di hutan-hutan Semenanjung Malaya,
Sumatra, Kalimantan, Filipina, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimous. 2002. Laporan Eksplorasi dan Koleksi Buah Dipterocarpa. Tidak
dipublikasikan. Proyek ITTO - Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.Schmidt,
Abdullah,
M., M.P. Mamat, M. R. Yaacob, A. Radam and L.H. Fui. (2015).
Estimate the conservation value
of biodiversity in national heritage site: A
case of Forest Research Institute
Malaysia. Procedia Environmental
Sciences, 30, 180–185.

No comments:
Post a Comment